Showing posts with label Kimia Dasar I. Show all posts
Showing posts with label Kimia Dasar I. Show all posts

Thursday, 13 September 2012

Destilasi



I.             Pendahuluan
Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan campuran dua zat atau lebih berdasarkan perbedaan titik didihnya. Praktikan diharapkan mampu mempraktekkan teknik destilasi secara mandiri sebagai salah satu pilihan metode pemisahan zat kimia.
Destilasi, atau distilasi (distillation), adalah sebuah proses fisika yang  biasa digunakan untuk memisahkan campuran yang sedikitnya mengandung satu cairan. Destilasi bekerja karena masing-masing zat dalam campuran tersebut memiliki titik didih yang khas. Sehingga, apabila suatu campuran dipanaskan, suhu campurannya meningkat sampai menjangkau suhu zat yang memiliki titik didih terendahnya dalam campuran tersebut. Zat yang memiliki titik didih terendah tentu saja akan mendidih dan menguap pertama kali. Sementara komponen-komponen yang lainnya dalam campuran tetap tinggal pada keadaannya semula, apakah padat atau cair, sampai komponen yang mendidih pada suhu yang paling rendah tersebut habis menguap. Selanjutnya, suhu akan meningkat menuju pada titik didih komponen lainnya pada campuran sampai komponen yang kedua terendah titik didihnya ini menguap meninggalkan campuran asalnya. Begitulah seterusnya, sampai semua komponen dalam campuran habis bila suhu pemanasan yang digunakan dapat menjangkau titik didih komponen yang memiliki titik didih tertinggi. 
Bila campuran asal mengandung suatu padatan dan suatu cairan, cairannya tersebut akan mendidih kalau campuran tersebut dipanaskan. Kalau cairan itu medidih, ia berubah menjadi gas. Bila kita dapat mengeluarkan gas itu dari wadahnya semula dan kemudian mendidinginkannya, gas tersebut akan dapat mengembun kembali menjadi bentuknya semula, yakni cairan. Kemudian, padatannya dari campuran semula akan tetap berada pada wadahnya, sedangkan cairannya semula pada wadah yang lain. Bila demikian, pemisahan menjadi lengkap.
Cara terakhir yang disebutkan adalah jenis destilasi yang paling sederhana, suatu metode untuk memurnikan air alami. Anda pasti pernah mempelajari siklus air di alam pada saat anda di SMA. Bila panas dari matahari menghangatkan air-air di bumi, cairan air berubah menjadi uap air, meninggalkan ketidakmurnian apapun yang terlarut. Uap air kemudian didinginkan oleh atmosfir, mengalami pengembunan, dan kemudian kembali lagi ke bumi sebagai suatu cairan yang kita ketahui sebagai hujan.
Bila campuran asalnya adalah suatu campuran cairan, masing-masing komponennya akan mendidih dan menguap pada titik didihnya, dan didinginkan akan memperoleh satu bagian komponen dari campuran asalnya. Cara ini dikenal dengan nama destilasi terfraksi. Minyak bumi mentah, suatu campuran dari beberapa zat yang bersifat cair, disuling dengan cara ini.
II.          Alat dan Bahan
Alat destilasi                         KMnO4
Termometer                          Air
Erlenmeyer
Batu didih porselen
Pembakar Bunsen
III.       Prosedur
1.      Rangkailah  perangkat peralatan destilasi seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1.
2.      Suhu yang digunakan haruslah memiliki skala yang setidak-tidaknya dapat membaca suhu sampai 110 °C.
3.      Text Box:  

Gambar 1. Susunan Alat Destilasi
Masukkan air suling ke dalam labu destilasi hingga setengah penuh, masukkan pula beberapa keping-keping kecil batu didih porselen. Kemudian panaskan menggunakan pembakaran Bunsen pada nyala api sedang. Bila air mulai terdestilasi, catatlah temperatur yang ditunjukkan pada skala termometer dan juga tekanan udara yang ditunjukkan pada skala barometer yang ada di dalam ruangan. Catatlah kedua parameter ini berselang dua menit selama sepuluh menit. Lakukanlah hal ini hingga tercatat keadaan yang relatif stabil untuk lima set pencatatan. Bandingkan data yang diperoleh dengan zat yang ada pada buku referensi atau “handbook”.
4.      Setelah diperoleh keadaan yang stabil, tambahkan air secukupnya untuk menggantikkan air yang telah terdestilasi dan juga 0,2 gram padatan kalium permanganat (KMnO4) untuk setiap kelipatan 100 ml air yang ada dalam labu destilasi. Padatan akan melarut. Tambahkan lagi beberapa keping batu didih yang baru ke dalam labu destilasi.
5.      Panaskan sistem dengan pembakar Bunsen sedemikian rupa agar api hanya menyebar sedikit pada kawat kasa. Setelah pendidihan bermulai, teruskan pendidihan hingga terdestilasi seperempat atau sepertiga cairan yang ada dalam labu destilasi ke dalam labu penampung. Catatlah suhunya pada saat sebelum pemanasan, pada saat labu sudah tidak dapat dipegang, pada saat cairan mulai mendidih dengan kuatnya, dan pada saat destilasi dihentikan. Masukkan data pengamatan pada tabel data.
6.      Setelah destilasi dihentikan, pindahkan 5 ml larutan yang tersisa dalam labu destilasi ke dalam cawan penguapan dan uapkan  larutan tersebut melalui pemanasan hingga kering. Uapkan juga hingga kering 10 ml air yang terdestilasi dalam bejana penampung (Erlenmeyer). Amati semua proses yang dilakukan.
IV.       Pengamatan










V.          Kesimpulan




Bandung,    /   /20
Paraf Asisten

Kristalisasi



I.       Pendahuluan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui cara penumbuhan kristal senyawa dalam larutan untuk memperoleh padatan kristalnya yang terpisah dari (campuran) larutan induknya.
Setiap molekul atau senyawa memiliki struktur ikatan, apakah ikatannya itu ionic atau kovalen, apakah fasanya gas, cair, atau padat. Berdasarkan keteraturan strukturnya, terdapat dua jenis padatan, yakni padatan kristal dan padatan amorf. Zat padat kristal memiliki keteraturan dalam keberulangan strukturnya. Sedangkan pada padatan amorf tidak terdapat pola keteraturan dalam strukturnya.
Banyak sekali senyawa-senyawa padat, baik senyawa organik maupun anorganik, yang memiliki struktur kristal. Contoh yang paling banyak kita jumpai sehari-hari dari senyawa organik yang memiliki struktur kristal adalah glukosa, dan pada senyawa anorganik seperti garam NaCl.
Kristal bisa tumbuh pada suatu larutan yang jenuh. Bila suatu larutan dijenuhkan, apakah melalui penguapan pelarutnya, pemakaian pelarut campuran yang memiliki kepolaran yang berbeda, atau penambahan ion sejenis pada larutan, maka pengintian molekul-molekul akan dimulai. Masing-masing molekul yang terlarut akan menggabungkan dirinya dengan yang lainnya yang lambat laun menjadi padatan (endapan) yang keluar dari larutan induknya. Bila padatan yang terbentuk adalah kristal, maka proses ini dinamakan kristalisasi. Sehingga, kristalisasi dapat digunakan sebagai salah satu metode pemurnian zat padat. Proses untuk mendapatkan padatan kristal yang lebih murni lagi melalui pelarutan kembali dinamakan rekristalisasi.
Kelarutan tidak semata-mata dipengaruhi oleh kepolaran pelarut dan konsentrasi (kejenuhan) larutan, ia juga dipengaruhi oleh suhu. Suatu padatan akan menjadi lebih larut dalam pelarutnya pada suhu yang lebih tinggi. Fenomena perbedaan kelarutan yang berbeda pada suhu yang berbeda ini sering digunakan untuk memurnikan padatan dari pengotor-pengotornya yang tak larut dalam pelarut panasnya. Atau, dengan suhu yang lebih tinggi, pelarut dibiarkan menguap agar diperoleh suatu larutan jenuh yang akan memulai pengintian terbentuknya kristal-kristal padat. Prinsip proses yang terakhir inilah yang kita sering lihat pada usaha tambak garam.
Pada bagian ini kita akan melakukan contoh percobaan bagaimana proses kristalisasi itu berlangsung dan bagaimana cara menanganinya. Kita akan membuat garam timbal (II) kromat dari reaksi antara garam timbal yang mudah larut dengan kalium kromat dalam pelarut air.
II.          Alat dan Bahan
Neraca analitik, gelas ukur, labu ukur, termometer, beaker glass, kertas saring, corong Buchner, Erlenmeyer, Pb(NO)3 atau Pb-asetat dan K2CrO4, dan akuades.
III.             Prosedur
1.      Buatlah 50 mL larutan Pb(NO)2 atau Pb-asetat 0,15 M dan 100 mL larutan K2CrO4 0,15 M.
2.      Masukkan 50 mL larutan Pb(NO)2  atau Pb-asetat yang telah dibuat ke dalam beaker glass 250 mL. Tambahkan larutan kalium kromat yang telah dibuat sebanyak 50 mL. Hangatkan secara perlahan dengan api kecil sekitar 3 menit. Usahakan suhu pemanasan tidak lebih dari 50 °C.
3.      Bila larutan keruh, saring dengan menggunakan kertas saring dan corong pemisah Buchner. Filtratnya adalah larutan kuning jernih. Tambahkan 1 mL lagi kalium kromat, hangatkan kembali seperti pada langklah 2. Bila larutan telah jernih tak-berwarna yang menandakan kalium kromat sudah berlebih, diamkan larutan sampai dingin pada suhu ruangan, atau kalau perlu dapat memakai penangas es agar lebih cepat membentuk kristal.
4.      Saring kristal tersebut dan cucilah beberapa kali dengan masing-masing 10 mL akuades.
5.      Bila ingin dilakukan rekristalisasi, larutkan kembali kristal timbal (II) kromat tersebut dalam air panas, bila perlu saring kembali untuk memastikan tidak ada zat padat yang bercampur. Biarkan menjadi dingin dan membentuk kristal kembali. Setelah tahap ini, kristal disaring, dikeringkan dan ditimbang untuk mengetahui rendemennya.
IV.       Hasil Pengamatan dan Perhitungan





V.          Kesimpulan


Bandung,    /       / 20
Paraf  Asisten

Analisis Volumetri Asam-Basa



I.             Pendahuluan
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami cara menentukan kadar zat yang bersifat asam atau basa. Dasar-dasar teori yang perlu difahami untuk melakukan percobaan ini adalah teori asam-basa, kesetimbangan asam-basa dalam air, pH, dan stoikiometri.
Istilah analisis volumetri mengacu pada analisis kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan konsentrasi yang diketahui tepat itu disebut larutan baku. Bobot zat yang ingin ditetapkan, dihitung dari volume larutan standar yang digunakan dan hukum-hukum stoikiometri yang diketahui.
Larutan baku biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses penambahan larutan baku sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi. Larutan pereaksi yang ditambahkan disebut titran. Saat di mana reaksi itu tepat lengkap, disebut titik ekivalen. Lengkapnya titrasi harus bisa terdeteksi oleh suatu perubahan yang dapat dilihat secara visual yang dihasilkan oleh reaktan itu sendiri atau zat lain yang ditambahkan untuk membantu melihat perubahan ini. Zat seperti ini dinamakan indikator, dan bila perubahan visual itu dapat diperoleh dari reaktannya sendiri, maka reaktan itu bertindak sebagai auto-indikator. Saat di mana terjadi perubahan visual pertama kali disebut titik akhir titrasi. Analisis volumetri dengan cara titrasi ini disebut analisis titrasi.
Ada beberapa macam analisis titrasi berdasarkan jenis reaksinya. Hampir semua jenis reaksi yang terjadi dalam larutan dapat digunakan untuk analisis titrasi. Reaksi-reaksi tersebut adalah: reaksi penetralan, pengendapan dan pembentukan kompleks. Titrasi yang melibatkan reaksi penetralan disebut titrasi asam-basa. Karena titrasi asam-basa dimaksudkan untuk mengetahui bobot/konsentrasi/kadar suatu asam atau suatu basa, cara ini sering disebut juga sebgai asidi-alkalimetri. Bila zat yang akan ditentukan adalah suatu basa, maka reaktan untuk menetapkannya adalah suatu asam, disebut asidimetri; Sebaliknya, bila reaktan yang menetapkannya adalah suatu basa, disebut alkalimetri.
Perhitungan kadar pada titrasi asam-basa adalah berdasarkan stoikiometri reaksi penetralan asam dan basa itu. Perhitungan stoikiometri dengan menggunakan satuan-satuan mol atau molar merpersyaratkan persamaan reaksi yang telah diseimbangkan, sehingga satuan konsentrasi yang lebih umum dipakai untuk keperluan titrasi adalah dalam sataun konesentrasi normal (N) yang desebut juga mol ekivalen (mol ´ jumlah ion yang harus dinetralkan) per liter (V). Maka, dalam titrasi berlaku rumus:
V1N1 = V2N2
Bila simbol subskrip 1 dinyatakan sebagai volume atau normalitas asam, maka simbol subskrip 2 adalah basanya. Atau sebaliknya, 1 adalah asam dan 2 adalah basa.
Bila kita plotkan perubahan pH terhadap setiap mL volume reaktan pada titrasi asam-basa, kita akan memperoleh kurva-kurva seperti terlihat pada Gb. 1, 2 dan 3.  Konsentrasi semua asam dan basa yang dipakai pada ploting ini adalah 0,1 N. Kurva pada Gb. 1, mewakili titrasi asam kuat oleh basa kuat, yakni HCl oleh NaOH. Karena keduanya adalah elektrolit kuat, ion-ionnya terionisasi sempurna, sehingga perubahan pH dekat titik ekivalen sangat tajam dan lebar.
Text Box:  
Gb. 1. Kurva Titrasi HCl oleh NaOH

 
Gb. 1. Kurva Titrasi CH3COOH oleh NaOH
Pada Gb. 2 dan 3, salah satu reaktan merupakan elektrolit lemah, karena asam lemah atau basa lemahnya terionisasi sebagian dengan memiliki tetapan kesetimbangan asam, Ka, atau basa, Kb, yang lebih kecil. Dengan demikian, kurva dari kedua jenis titrasi tersebut memiliki perubahan pH yang kurang tajam dan lebar pada titik ekivalennya dibandingkan dengan titrasi asam kuat oleh basa kuat seperti pada Gb. 1.
Text Box:  
Gb. 3. Kurva Titrasi NH3 oleh HCl
Bentuk-bentuk kurva sangat ditentukan oleh harga Ka dan Kb. Dengan mengetahui harga Ka dan Kb ini kita dapat membuat sendiri kurva titrasinya. Kurva titrasi ini nantinya akan sangat berguna dalam pemilihan indikator titrasi asam-basa, atau disaebut indikator asam-basa atau indikator pH.
Indikator asam-basa merupakan senyawa asam atau basa organik lemah yang memiliki warna yang berbeda dengan asam atau basa konjugatnya. Terbentuknya asam atau basa konjugat ini karena ia juga memiliki kesetimbangan dalam air. Konsentrasi asam atau basa lingkungannyalah yang mempengaruhi arah kesetimbangan, sehingga akan memperngaruhi terhadap terjadinya dominasi warna di antara konjugat-konjugatnya, yang akhirnya kita lihat sebagai perubahan warna dari larutan pada titik ekivalen. Karena indikator-indikator pH memiliki harga Ka atau Kb yang berbeda, mereka juga akan memiliki rentang kerjanya. Rentang kerja dari beberapa indikator pH untuk titrasi asam basa seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Text Box: Tabel 1. Warna Indikator dan Rentang Kerja pH-nya

Indikator Warna Rentang pH
 Dalam asam Dalam basa 
Timol Biru Merah Kuning 1,2 – 2,8
Bromofenol Biru Kuning Ungu-biru 3,0 – 4,6
Metil Oranye Oranye Kuning 3,1 – 4,4
Metil Merah Merah Kuning 4,2 – 6,3
Klorofenol Biru Kuning Merah 4,8 – 6,4
Bromotimol Biru Kuning Biru 6,0 – 7,6
Kresol Merah Kuning Merah 7,2 – 8,8
Fenolftalein Tak berwarna Pink-merah 8,3 – 10,0
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, ada lagi yang perlu diperhatikan, yakni masalah larutan baku. Berdasarkan kepentingan pemakaiannya, terdapat dua jenis larutan baku, yakni larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Larutan baku primer adalah larutan baku yang dibuat dari bahan yang (terutama) memiliki kemunian yang tinggi dan (relatif) memiliki berat ekivalen yang besar, sehingga kita tidak meragukan tentang keakuratan dalam menyatakan konsentrasinya setelah penimbanagn bahan dan melarutkannya dalam sejumlah tepat air, maka kita dapat langsung memakainya untuk titrasi; sedangkan syarat bahan untuk larutan baku sekunder tidak diharuskan demikian. Dalam menyatakan konsenstrasi pada larutan baku sekunder, kita tidak bisa langsung menentukannya secara tepat berdasarkan berat penimbangan dan pelarutannya dalam sejumlah tertentu air. Kita dapat menemui yang berisifat demikian pada bahan-bahan yang kurang stabil di udara terbuka atau memiliki berat ekivalen yang rendah. Maka, pada larutan yang sifatnya demikian haruslah dilakukan pembakuan dulu oleh larutan baku primer sebelum pemakaian untuk titrasi.
II.          Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Erlenmeyer
Beaker glass
Pipet tetes
Labu ukur
Neraca
Asam oksalat
NaOH
HCl
Indikator Fenolftalein
III.       Prosedur
Pembuatan Larutan Baku Primer Asam Oksalat 0,1 N
-          Timbang sebanyak 1,575 gram H2C2O4×2H2O
-          Masukkan ke dalam labu ukur 250 mL, lalu tambahkan akuades sampai tanda batas, larutkan dengan baik. Beri label.
Pembuatan Larutan Baku Sekunder NaOH 0,1 N
-          Timbang sebanyak 4,0 gram NaOH
-          Masukkan ke dalam beaker gelas 1000 mL, lalu tambahkan air sampai 1000 mL sampai larut.
-          Pasangkan buret 50 mL dengan menggunakan statif dan klem, lalu isilah dengan larutan NaOH tersebut sampai tanda batas nol.
-          Siapkan 25 mL larutan baku asam oksalat yang telah dibuat sebelumnya, lalu masukan ke dalam erlermeyer 250 mL. tambahkan 2 tetes indikator fenolftalein ke dalamnya.
-          Lakukan titrasi dengan cara menambahkan NaOH dari buret ke dalam larutan asam oksalat sampai didapatkan perubahan warna larutan pada saat pertama kali menjadi merah muda, dan segera hentikan penambahan NaOH. Lakukan 2-3 kali dengan larutan asam oksalat yang baru, sampai dapat meyakinkan atas perubahan warna yang pertama kalinya. (Cara titrasi yang benar bisa ditanyakan kepada asisten). Catat, berapa volume NaOH yang dikeluarkan.
-          Hitunglah konsentrasi NaOH tersebut.
Penentuan Konsentrasi HCl
-          Siapkan 25 mL sampel larutan HCl dalam erlermeyer 250 mL. Tambahkan 2 tetes indikator fenolftalein ke dalamnya.
-          Lakukan titrasi seperti yang telah dilakukan pada pembuatan larutan baku sekunder NaOH.
-          Hitunglah konsentrasi sampel asam oksalat tersebut.
IV.       Data Pengamatan dan Perhitungan




















V.          Kesimpulan





Bandung,    /    /20
Paraf Asisten

Reaksi Kimia



I.       Pendahuluan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui indikasi-indikasi terjadinya reaksi kimia atau perubahan kimia. Praktikan diharapkan mampu membedakan indikasi perubahan antara zat-zat asal (reaktan) dengan hasil reaksi (produk)nya.
Reaktan-reaktan yang bereaksi akan menghasilkan zat-zat hasil reaksi yang dapat teramati melalui sifat fisik dan kimia yang ditampilkan oleh adanya zat-zat hasil reaksi yang dimaksud. Sebagai akibat dari terjadinya suatu reaksi yang menghasilkan senyawa hasil reaksi, berbagai perubahan dapat teramati pada sistem reaksi, seperti terjadinya perubahan suhu atau perubahan panas, terjadinya perubahan warna, terbentuknya endapan ataupun terbentuknya gas berwarna maupun yang tak-berwarna.
            Terjadinya perubahan suhu, atau perubahan panas dapat diamati melalui pengukuran suhu sistem reaksi, misalnya melalui pengukuran suhu larutan dimana terjadinya reaksi pada keadaan sebelum dan sesudah berlangsungnya reaksi. Terjadi perubahan warna dan juga terjadinya endapan dapat diamati secara langsung. Gas yang terjadi sebagai indikasi terjadinya reaksi, dapat diamati secara langsung dari gelembung gas yang timbul terutama dari media reaksi yang berupa larutan, ataupun dari gas berwarna yang dihasilkan. Untuk gas tak berwarna yang juga tidak nyata  dalam hal pembentukan gelembung, pengamatan dapat dilaksanakan melalui baunya yang khas.
            Dalam hal ini, penegasan mengenai terjadinya gas sebagai hasil suatu reaksi, perlu dilaksanakan melalui cara mereksikan gas yang dimaksud dengan pereaksi kimia tertentu yang dapat menegaskan terjadinya gas melalui pembentukan warna, pembentukan endapan maupun perubahan fisik atau kimia lainnya. Hasil reaksi dari zat berwarna, kemungkinan akan membentuk larutan ataupun endapan yang berwarna, akan banyak membantu dalam penegasan hasil reaksi yang mungkin terjadi.
II.          Alat dan Bahan
Tabung reaksi
Batang pengaduk
Rak tabung reaksi
Pembakar Bunsen
Na2CO3 1%
NaHCO3 1%
HCl encer
Larutan Ca(OH)2
Logam Zn
NaOH 1 M
KlO3 1 M
KI 10%
H2SO4 encer
FeCl3 10%
KSCN 1 M
CuSO4 0,1 M
NH4OH 6 M
AgNO3 0,1 M
NaCl 0,1 M
K2CrO4 10%
HgCl 10%
Kertas lakmus merah
Kertas kanji iodida
III.       Prosedur
Reaksi yang menghasilkan gas
1.      1 ml larutan Na2CO3 atau NaHCO3 dalam tabung reaksi ditambah beberapa tetes HCl encer, amati gas yang terjadi. Gas hasil reaksi dikenakan pada batang pengaduk yang telah dibasahi dengan larutan Ca(OH)2, amati perubahan yang terjadi pada permukaan batang pengaduk.
2.      1 ml larutan HCl dalam tabung reaksi ditambah 1 butir logam Zn, amati gas yang terjadi, jika perlu dapat dibantu dengan pemanasan.
3.      1 ml larutan garam amonium dalam tabung reaksi ditambah 1 ml larutan NaOH encer. Gas yang terbentuk dapat diamati dengan mencium bau gas yang terbentuk. Penegasan dilakukan pula dengan mengenakan gas yang terjadi pada kertas lakmus merah yang telah dibasahi air. Amati perubahan warna yang terjasi pada kertas lakmus yang dimaksud.
4.      1 ml larutan KIO3 ditambah 1 ml larutan KI encer dan beberapa tetes larutan H2SO4 encer. Amati gas berwarna yang terbentuk. Gas yang terbentuk juga dikenakan pada kertas kanji iodida. Amati perubahan warna yang terjadi pada kertas kanji iodida.
Reaksi yang menghasilkan larutan berwarna.
1.      1 ml larutan yang mengandung FeCl3 ditambah beberapa tetes larutan H2SO4 encer dan beberapa tetes larutan KSCN. Amati warna larutan hasil reksi tersebut.
2.      1 ml larutan CuSO4 dalam tabung reaksi, ditambah larutan NH4OH tetes demi tetes hingga larutan berbau amoniak. Amati perubahan yang terjadi sejak awal penetesan NH4OH hingga penambahan NH4OH berlebih.
Reaksi yang menghasilkan endapan
1.      1 ml larutan yang mengandung NaCl ditambah beberapa tetes larutan AgNO3. Amati perubahan yang terjadi.
2.      1 ml larutan AgNO3 dalam tabung raksi ditambah beberapa tetes larutan K2CrO4.  Amati perubahan yang terjadi.
3.      1 ml larutan HgCl2 dalam tabung reaksi, ditambah beberapa tetes larutan  KI encer. Amati perubahan yang terjadi. Tambahkan lagi larutan KI sampai terjadi perubahan.

IV.       Pengamatan

No
Reaksi yang menghasilkan gas
Pengamatan hasil
1.


2.


3.


4.


No
Reaksi yang menghasilkan larutan berwarna
Pengamatan hasil
1.


2.


No
Reaksi yang menghasilkan endapan
Pengamatan Hasil
1.


2.


3.


V.          Tugas
1.      Kemukakan berbagai contoh reaksi lainnya yang menghasilkan gas, minimal 10 contoh reaksi.
2.      Kemukaan berbagai contoh reaksi lainnya yang menghasilkan larutan berwarna, minimal 10 contoh reaksi.
3.      Kemukakan berbagai contoh reaksi lainnya yang menghasilkan endapan, minimal 10 contoh reaksi.
VI.             Kesimpulan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Catatan Informatika